Kamis, 24 Oktober 2013

Amalan-amalan pada Tanggal 11 Dzulhijjah.

Jamarat
Jamarat

Beberapa amalan pada Tanggal 11 Dzulhijjah yaitu :
  • Mabit (menginap) di Mina pada tanggal 10 malam.
  • Berupaya untuk senantiasa shalat berjama’ah.
  • Memperbanyak takbir pada setiap kondisi dan waktu baik di kemah, di pasar atau di jalan-jalan.
  • Melempar jumrah yang tiga (sughra, wustha dan kubra) setelah matahari tergelincir (setelah masuknya waktu Zhuhur).
  • Mengawali melempar “jumrah sughra”, kemudian “jumrah wustha”, kemudian “jumrah kubra/jumrah 'Aqabah”.
  • Setiap jumrah dilempari dengan tujuh buah batu kecil secara berurutan, dan setiap lemparan disertai dengan meng-ucap “Allaahu Akbar”.
  • Merupakan Sunnah, tatkala melempar ketiga jumrah tersebut dengan menjadikan posisi kota Makkah berada di sebelah kiri pelempar, dan Mina disebelah kanannya.
  • Setelah melempar jumrah sughra dan jumrah wustha disunnahkan untuk berdo’a sambil menghadap ke arah kiblat dengan do’a yang panjang pada masing-masing jumrah tersebut. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .
  • Kemudian melempar jumrah 'Aqabah sebagaimana pada dua jumrah sebelumnya. Akan tetapi, setelah melempar jumrah 'Aqabah tidak berdo’a sebagaimana pada dua jumrah seb
  • Amalan-amalan pada Tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Nahar/'Idul Adhha)

    Muzdalifah
    Muzdalifah

    Amalan-amalan pada Tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Nahar/'Idul Adhha) yaitu :
  • Para jama’ah haji harus shalat Shubuh di Muzdalifah, terkecuali kaum lemah dan para wanita.
  • Usai shalat Shubuh menghadap ke arah kiblat untuk memuji Allah, bertakbir, bertahlil, (mentauhidkan Allah) dan berdo’a kepada-Nya hingga terang benderang.
  • Berangkat menuju ke Mina sebelum matahari terbit dengan penuh ketenangan sambil bertalbiyah.
  • Jika tiba di wadi (lembah) "Muhassir" , langkah dipercepat jika memung-kinkan.
  • Menyiapkan batu untuk melempar jumrah yang diambil dari Muzdalifah atau dari Mina.
  • Melempar jumratul 'Aqabah dengan tujuh batu kecil secara berturut-turut sambil membaca "Allaahu Akbar" pada setiap lemparan.
  • Setelah melempar jumratul 'Aqabah berhenti dari talbiyah.
  • Menyembelih binatang hadyu dan memakan sebagian dari dagingnya dan sebagian lainnya dibagi-bagikan kepada para fuqara’. Penyembelihan hadyu ini hanya diwajibkan kepada jama’ah haji yang mengerjakan haji Tamattu dan haji Qiran.
  • Bagi yang tidak menyembelih “hadyu” diwajibkan berpuasa sepuluh hari, 3 hari pada masa haji dan 7 hari setelah kembali ke kampung halaman.
  • Puasa tiga hari tersebut boleh dikerja-kan pada hari-hari Tasyriq (11,12 dan 13 Dzulhijjah)
  • Mencukur rambut atau memendekkannya, dan bagi yang memendekkannya, harus mencakup seluruh kepala, namun lebih afdhal ketika mencukur/menggunting pendek hendaknya memulai dari bagian kepala sebelah kanan.
  • Bagi wanita, menggunting pendek rambutnya sepanjang satu ruas jari. Jika telah mencukur atau menggunting pendek rambut kepala, berarti telah bertahallul dengan tahallul yang per-tama dan dengan demikian anda telah dibolehkan untuk mengerjakan lara-ngan-larangan ihram kecuali mengum-puli isteri.
  • Tahallul pertama dapat terlaksana dengan mengerjakan dua dari tiga hal dibawah ini:
    1. Melempar jumratul 'Aqabah.
    2. Mencukur/memendekkan rambut kepala.
    3. Melaksanakan thawaf Ifadhah.
    • Menuju Makkah untuk melaksanakan thawaf Ifadhah tanpa berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama, kemudian shalat dua rakaat sunnah thawaf.
    • Melaksanakan sa’i haji diantara Shafa dan Marwah bagi yang mengerjakan haji Tamattu’. Demikian pula bagi mereka yang melaksanakan haji Qiran atau haji Ifrad, apabila belum melaksa-nakan sa’i setelah thawaf Qudum, maka mereka wajib melakukan sa’i setelah thawaf Ifadhah. Adapun jika telah melaksanakan sa’i setelah thawaf Qudum, maka mereka tidak mengerjakan sa’i lagi setelah thawaf Ifadhah.
    • Dengan selesainya melaksanakan thawaf Ifadhah dan sa’i haji, berarti telah bertahallul secara sempurna dan seluruh larangan ihram telah dibolehkan.
    • Minum air zam-zam dan shalat Zhuhur di Makkah jika memungkinkan.
    • Menginap di Mina pada malam hari-hari Tasyriq.

    Amalan-amalan pada Tanggal 9 Dzulhijjah.

    Amalan-amalan pada Tanggal 9 Dzulhijjah.
    • Sesudah shalat Shubuh di Mina dan setelah matahari terbit, berangkat menuju 'Arafah sambil bertalbiyah atau bertakbir.
    • Dimakruhkan berpuasa pada hari ini karena Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ketika wuquf di 'Arafah, beliau tidak berpuasa dan telah diberikan kepada beliau satu bejana susu segar, lalu beliau meminumnya.
    • Jika memungkinkan, -sebelum wuquf di 'Arafah- turun sebentar di Namirah hingga masuk waktu Zhuhur.
    • Mendengarkan khutbah Imam di Na-mirah, lalu mengerjakan shalat Zhuhur dan 'Ashar, di jamak taqdim dan di qashar dengan satu adzan dan dua iqa-mah.
    • Setelah shalat, memasuki padang 'Ara-fah untuk melaksanakan wuquf, dan setiap jama'ah haji harus benar-benar memperhatikan apakah dia telah berada di lokasi 'Arafah atau masih di luar padang 'Arafah.
    • Ketika wuquf, berupaya semaksimal mungkin untuk benar-benar konsen-trasi dalam berdzikir, berdo'a dan merendahkan diri dihadapan Allah dengan penuh kekhusyu'an.
    • Seluruh padang 'Arafah adalah tempat wuquf, namun jika seseorang menjadikan "Jabal Rahmah" berada di antaranya dan di antara kiblat, maka hal itu lebih afdhal.

    • Mendaki ke puncak "Jabal Rahmah" bukan merupakan sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ketika wuquf di 'Arafah.
    • Menghadap ke arah kiblat ketika ber-do'a sambil mengangkat kedua tangan dengan penuh kekhusyu'an, hingga matahari terbenam.
    • Memperbanyak membaca:

    لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُوَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ


    "Tiada Ilah yang sebenarnya melainkan hanya Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kekuasaan dan pujian, dan Dia berkuasa atassegala sesuatu."
    • Memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .
    • Tidak keluar dari 'Arafah kecuali setelah matahari terbenam.
    • Setelah matahari terbenam, bertolak ke Muzdalifah dengan penuh ketenangan, dan apabila terdapat keluasan, agar mempercepat langkahnya/kendaraan-nya.
    • Shalat Maghrib dan 'Isya’ di Muzdalifah dengan di jamak dan di qashar (shalat Maghrib 3 rakaat dan shalat 'Isya’ 2 rakaat) dengan satu adzan dan dua iqamah.
    • Mabit (menginap) di Muzdalifah hingga terbit fajar, adapun bagi kaum lemah dan para wanita dibolehkan untuk bertolak ke Mina setelah pertengahan malam.

    Amalan-amalan pada hari Tarwiyah (Tanggal 8 Dzulhijjah).

    Amalan-amalan pada hari Tarwiyah (Tanggal 8 Dzulhijjah).
    • Pada waktu Dhuha, para jama'ah haji ber-ihram dari tempat tinggalnya dengan niat akan melaksanakan ibadah haji. Dan sebelum ber-ihram (masuk dalam ibadah), bagi yang melaksanakan haji Tamattu' mengadakan persiapan sebagaimana yang telah dijelaskan diatas pada pembahasan tentang "Persiapan sebelum Ihram". Adapun yang melak-sanakan haji Qiran dan Ifrad mereka tetap dalam keadaan ihram mereka sejak sebelumnya.
    • Kemudian berihram untuk haji dengan mengucapkan:

    لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ حَجًّا

    ”Labbaika Allaahumma Hajjan”
    Jika khawatir adanya penghalang yang akan merintanginya dalam me-nyempurnakan pelaksanaan haji, seperti sakit, takut musuh dan lainnya, maka dibolehkan ia mengucapkan persyaratan sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dengan mengucapkan:

    اللَّهُمَّ مَحِلِّى حَيْثُ حَبَسْتَنِى

    ”Allaahumma Mahilli haitsu habastani”
    "Ya Allah tempat tahallulku dimana saja Engkau menahanku."

    • Bagi laki-laki, disunnahkan menutup kedua pundak dengan kain ihram penutup pundaknya.
    • Setelah berada dalam ihram, maka wajib menghindar dari seluruh lara-ngan ihram.
    • Memperbanyak membaca talbiyah.

    لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرَيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَ النِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيَكَ لَكَ

    Bacaan talbiyah terus berlanjut hingga para jama'ah haji melempar jumratul 'Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah.
    • Bertolak menuju Mina sambil bertalbiyah.
    • Shalat Zhuhur, 'Ashar , Maghrib, 'Isya' dan Shubuh di Mina. Shalat-shalat tersebut dikerjakan pada waktunya masing-masing dan mengqashar shalat-shalat yang jumlah rakaatnya empat (Zhuhur, 'Ashar, dan 'Isya') menjadi dua rakaat.
    • Tidak mengerjakan shalat Sunnah rawa-tib atau shalat sunnah lainnya, kecuali shalat witir ketika menjelang tidur atau menjelang waktu Shubuh dan shalat sunnah Fajar (qabliyah Shubuh). Karena dua shalat inilah yang senantiasa dikerjakan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , meskipun dalam safar (bepergian).
    • Memperbanyak membaca talbiyah, demikian pula membaca dzikir-dzikir lainnya, seperti dzikir di pagi hari dan di sore hari.
    • Menginap di Mina pada malam hari tanggal 8 Dzulhijjah.

    Ringkasan Amalan-Amalan Haji

    • Pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah), mempersiapkan diri untuk berihram sebagaimana lazimnya ketika berihram dari miqat.
    • Berihram untuk haji dengan mengucapkan:
    لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بِحَجَّةٍ

    Yang dilanjutkan dengan memperbanyak membaca talbiyah:

    لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرَيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَ النِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

    Bacaan talbiyah ini terus diucapkan dan tidak dihentikan kecuali jika akan melem-par Jumratul 'Aqabah. 
    • Berangkat menuju Mina dan menginap disana serta melaksanakan shalat Zhuhur, 'Ashar, Maghrib, 'Isya’ dan Shubuh dengan mengqashar shalat-shalat yang empat rakaat tanpa di jamak.
    • Bertolak dari Mina pada hari 'Arafah (9 Dzulhijjah) setelah matahari terbit.
    • Turun di Namirah disisi padang 'Arafah dan melaksanakan shalat Zhuhur dan 'Ashar, dijamak taqdim dan diqashar dengan satu kali adzan dan dua kali iqamah.
    • Melaksanakan wuquf diatas padang 'Arafah dalam kondisi tidak berpuasa. Sambil menghadap ke arah kiblat, berdo'a dengan mengangkat tangan hingga matahari terbenam.
    • Bertolak meninggalkan 'Arafah setelah matahari terbenam sambil membaca talbiyah dan berjalan dengan penuh ketenangan.
    • Shalat Maghrib dan 'Isya' dengan dijamak setelah tiba di Muzdalifah, shalat ini dilakukan dengan satu kali adzan dan dua kali iqamah.
    • Menginap di Muzdalifah tanpa menghidupkan malam itu dengan shalat, baca al-Qur-an atau ibadah lainnya karena hal tersebut tidak dilakukan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .
    • Melaksanakan shalat Shubuh (tanggal 10 Dzulhijjah,-Pent) jika telah masuk waktunya.
    • Wuquf di Masy'aril Haram dengan menghadap ke arah kiblat sambil berdo'a, menyanjung dan mengagungkan serta mentauhidkan Allah Subhannahu wa Ta'ala hingga terang benderang.
    • Berangkat dari Muzdalifah sebelum matahari terbit dan mempercepat langkah/ kendaraan ketika tiba di tengah wadi "Muhassir".
    • Melempar Jumratul 'Aqabah pada hari Nahar (tanggal 10 Dzulhijjah) diwaktu Dhuha dengan menggunakan 7 batu kecil. Lemparan ini boleh juga dilakukan setelah tergelincirnya matahari, dan setiap lem-paran membaca takbir " اَللَّهُ أَكْبَرُ "
    • Menghentikan bacaan talbiyah ketika me-lempar Jumratul 'Aqabah dan dengan me-lempar jumrah ini, berarti telah tahallul ashghar.
    • Pelemparan jumrah yang tiga (sughra, wustha dan kubra) pada hari-hari Tasyriq (11-12-13- Dzulhijjah) dilakukan setelah tergelincirnya matahari.
    • Bagi yang melakukan haji Tamattu' dan haji Qiran, harus menyembelih binatang hadyu berupa seekor kambing bagi setiap orang atau tujuh orang jama'ah haji ber-gabung untuk membeli seekor unta atau seekor sapi. Dan tempat penyembelihan-nya boleh di Mina dan boleh pula di Mak-kah.
    • Bagi yang tidak mampu menyembelih binatang hadyu, mereka diwajibkan ber-puasa selama 3 hari pada masa haji dan 7 hari setelah tiba di kampung halamannya.
    • Memakan sebagian dari daging sembelihan hadyunya.
    • Mencukur bersih rambut kepala (bagi laki-laki), adapun bagi wanita cukup dengan memotong rambutnya sepanjang satu ruas jari.
    • Melaksanakan thawah ifadhah di Baitullah tanpa berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama, dan tidak pula membuka pundak kanannya.
    • Bagi yang melaksanakan haji Tamattu' harus melaksanakan sa'i antara Shafa dan Marwah setelah thawaf ifadhah. Adapun bagi haji Qiran yang sudah melaksanakan sa'i ketika pertama kali tiba, maka mereka tidak sa'i lagi sesudah thawaf ifadhah.
    • Disunnahkan untuk mengerjakan manasik pada hari 'Idul Adh-ha (10 Dzulhijjah) secara berurutan sebagai berikut:
    o Melempar Jumratul 'Aqabah.
    o Menyembelih binatang hadyu bagi haji Tamattu' dan Qiran.
    o Mencukur bersih rambut kepala.
    o Thawaf ifadhah.
    • Setelah thawaf ifadhah minum air zam-zam, lalu mencium Hajar Aswad.
    • Kembali ke Mina untuk menginap di sana selama hari-hari Tasyriq (11-12-13 Dzul-hijjah).
    • Melempar jumrah yang tiga pada hari-hari Tasyriq sesudah matahari tergelincir.
    • Melaksanakan thawaf wada' sebelum me-ninggalkan Makkah, kecuali bagi wanita yang sedang haidh atau nifas, maka tidak wajib bagi mereka untuk melaksanakan thawaf wada'.

    Perintah Untuk Melaksanakan Haji Tamattu'

    Manasik Haji

    Dari Jabir bin 'Abdullah Radhiallaahu anhu , ia berkata:


    أَهْلَلْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ; بِالْحَجِّ، فَلَمَّا قَدِمْنَا مَكَّةَ أَمَرَنَا أَنْ نَحِلَّ وَ نَجْعَلَهَا عُمْرَةً فَكَبُرَ ذَلِكَ عَلَيْنَا وَ ضَاقَتْ بِهِ صُدُوْرُنَا فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ ; فَمَا نَدْرِى أَشَيْءٌ بَلَغَهُ مِنَ السَّمَاءِ أَمْ شَيْءٌ مِنْ قِبَلِ النَّاسِ ، فَقَالَ: (( أَيُّهَا النَّاسُ أَحِلُّوْا، فَلَوْ لاَ الْهَدْيُ الَّذِي مَعِى فَعَلْتُ كَمَا فَعَلْتُمْ )) قَالَ: فَأَحْلَلْنَا حَتَّى وَطِئْنَا النِّسَاءَ وَ فَعَلْنَا مَا يَفْعَلُ الْحَلاَلُ حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ وَ جَعَلْنَا مَكَّةَ بِظَهْرٍ أَهْلَلْنَا بِالْحَجِّ
    "Kami telah berihram untuk melaksanakan haji bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , tatkala tiba di Makkah beliau memerintahkan kami untuk bertahallul dan kami jadikan (haji) itu sebagai umrah. Maka hal itu terasa berat oleh kami dan menjadi sempit dada-dada kami. Maka berita (tentang perihal kami) itu sampai kepada Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , lalu kami tidak mengetahui (dengan pasti,-Pent) apakah telah sampai sesuatu (wahyu) dari langit kepada beliau, ataukah sesuatu yang diberitakan oleh manusia, lalu beliaupun bersabda: 'Wahai sekalian manusia, bertahalullah kamu, seandainya bukan karena binatang hadyu yang ada bersamaku, niscaya aku akan melakukan seperti apa yang kalian lakukan.' Jabir berkata (melanjutkan ceritanya): 'Maka kamipun bertahallul hingga kami mengumpuli isteri-isteri (kami), dan kami lakukan apa saja yang dilakukan oleh orang yang tidak dalam keadaan ihram hingga (datangnya) hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah,-Pent), dan ketika kami akan meninggalkan kota Makkah (menuju Mina,-Pent), kami pun ber-ihram untuk haji.'

    Macam-Macam Haji

    Ada tiga macam haji:
    1. Haji Tamattu'.
    2. Haji Qiran.
    3. Haji Ifrad.

    1. Haji Tamattu.'
    Ialah seorang berihram untuk melaksanakan umrah pada bulan-bulan haji, memasuki Makkah lalu menyelesaikan umrahnya dengan melaksanakan thawaf umrah, sa'i umrah kemudian bertahallul dari ihramnya dengan memotong pendek atau mencukur rambut kepalanya, lalu dia tetap dalam kondisi halal (tidak ber-ihram) hingga datangnya hari Tarwiyah, yaitu tanggal 8 Dzulhijjah. Apabila tanggal 8 Dzulhijjah telah tiba, dia berihram lagi untuk melaksanakan haji dengan meng-ucapkan :      لَبَّيْكَ اَللَّهُمَّ حَجًّا lalu menjalankan manasik hingga selesai.

    Orang yang melaksanakan haji Tamattu' wajib menyembelih binatang "hadyu."
    Adapun dalilnya adalah hadits 'Abdullah bin 'Umar Radhiallaahu anhu , beliau berkata:
    تَمَتَّعَ رَسُوْلُ الله ; فِيْ حَجَّةِ الْوَدَاع بِالْعُمْرَةِ إِلِى الْحَجِّ وَأَهْدَى وَسَاقَ مَعَهُ الْهَدْىَ مِنْ ذِى الْحُلَيْفَةِ وَبَدَأَ رَسُوْلُ اللهِ ; فَأَهَلَّ بِالْعُمْرَةِ ثُمَّ أَهَلَّ بِالْحَجِّ فَتَمَتَّعَ النَّاسُ مَعَ النَّبِيِّ ; بالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَكَانَ مِنَ النَّاسِ مَنْ أَهْدَى فَسَاقَ الْهَدْىَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ يُهْدِ فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ ; مَكَّةَ قَالَ للِنَّاسِ: مَنْ كَانَ مِنْكُمْ أَهْدَى فَإِنَّهُ لاَ يَحِلُّ مِنْ شَيْءٍ حَرُمَ مِنْهُ حَتَّى يَقْضِىَ حَجَّهُ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَهْدَى فَلْيَطُفْ بِالْبَيْتِ وَ بِالصَّفَا وَ الْمَرْوَةِ وَ يُقَصِّرْ وَلْيَحْلِلْ ثُمَّ لِيُهِلَّ بِالْحَجِّ وَلْيُهْدِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ هَدْيًا فَلْيَصُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فِيْ الْحَجِّ وَسَبْعَةً إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ
    "Pada waktu haji wada' Rasulullah ; mengerjakan umrah sebelum haji, beliau membawa binatang hadyu dan menggiring (binatang-binatang) itu bersamanya dari Dzul Hulaifah (Bir Ali), beliau memulai ber-ihlal (berniat) ihram untuk umrah, kemudian beliau ber-ihlal (berniat) untuk haji . Maka demikian pula manusia yang menyertai beliau, mereka mengerjakan umrah sebelum haji. Di antara mereka ada yang membawa binatang hadyu. Maka setibanya Nabi Shalallaahu alaihi wasalam di Makkah beliau ber-kata kepada manusia: 'Barangsiapa di antara kalian yang membawa binatang hadyu, maka tidak boleh dia berlepas dari ihram-nya hingga selesai melaksanakan hajinya, dan barangsiapa di antara kalian yang tidak membawa binatang hadyu, hendaklah ia melakukan thawaf di Baitullah (thawaf umrah/qudum,-Pent) dan melakukan thawaf antara shafa dan marwah (sa'i), lalu memendekkan (rambutnya) dan bertahallul. Kemudian (jika tiba hari haji,-Pent) hendak-lah ia berniat ihram untuk ibadah haji, dan hendaklah dia menyembelih binatang hadyu. Barangsiapa yang tidak (mampu) memperoleh binatang hadyu, maka dia berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari lagi apabila telah kembali kepada keluarganya (ke negeri asalnya,-Pent)
    2. Haji Qiran.

    Yaitu seorang berihram untuk melak-sanakan umrah dan haji secara bersamaan, atau dia berihram untuk umrah, lalu ber-ihram untuk haji sebelum memulai thawaf-nya, kemudian ia memasuki kota Makkah dan tetap pada ihramnya hingga selesai melaksanakan manasik hajinya (sampai tanggal 10 Dzulhijjah), dan wajib baginya untuk menyembelih "hadyu".

    3. Haji Ifrad.

    Yaitu seorang yang berihram untuk melaksanakan ibadah haji saja, dia tidak bertahallul dari ihramnya, kecuali setelah melempar jamroh 'aqabah (pada tanggal 10 Dzulhijjah), dan tidak ada kewajiban menyembelih "hadyu" baginya.
    Dalil haji Qiran dan haji Ifrad adalah hadits 'Aisyah Radhiallaahu anha , beliau berkata:
    خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ ; عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَمِنَّا مِنْ أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ وَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِحَجٍّ وَعُمْرَةٍ وَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِالْحَجِّ وَأَهَلَّ رَسُوْلُ اللهِ بِالْحَجِّ فَأَمَّا مَنْ أَهَلَّ بِالْحَجِّ أَوْ جَمَعَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لَمْ يَحِلُّوْا حَتَّى كَانَ يَوْمَ النَّحْرِ
    "Kami keluar bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pada tahun ketika beliau melaksanakan haji wada', di antara kami ada yang berihram untuk melaksanakan umrah, ada pula yang berihram untuk umrah dan haji (secara bersamaan), dan adapula yang berihram untuk melaksanakan haji saja, dan Rasulullah berihram untuk haji. Adapun yang berihram untuk haji atau yang berihram dengan menggabungkan antara haji dan umrah, maka mereka tidak bertahallul (berlepas dari ihram mereka,-Pent) hingga pada hari Nahar (hari 'Idul Adh-ha, 10 Dzulhijjah,-Pent).